Opini

Hijab, Karier, dan Mimpi: Tantangan dan Peluang Perempuan Muslim di Dunia Kerja

Perempuan Muslim aktif meniti karier di berbagai sektor. Namun, identitas keislaman mereka sering kali berhadapan dengan tantangan struktural dan kultural yang tidak ringan.

Perempuan Muslim dan Perjalanan Profesional yang Tak Mudah

Di berbagai kota besar Indonesia, perempuan Muslim hadir dalam ruang-ruang kerja formal dengan peran strategis. Mereka adalah tenaga kesehatan, pendidik, akuntan, insinyur, hingga pemimpin startup. Namun, dalam perjalanan mereka, ada tantangan yang tidak selalu dialami oleh perempuan lain: bagaimana mengharmoniskan identitas keagamaan dan profesionalitas modern.
Stereotip masih menjadi dinding tak kasatmata. Banyak perempuan berhijab masih diasosiasikan dengan keterbatasan, dianggap kurang fleksibel, atau tidak cukup “representatif” dalam industri tertentu.

“Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)

Ayat ini menegaskan bahwa ukuran utama dalam menilai seseorang bukanlah gender atau penampilan luar, melainkan kualitas spiritual dan moral.

Tantangan Peran Ganda: Karier dan Keluarga

Bekerja bagi perempuan Muslim sering kali bukan hanya urusan profesionalitas. Mereka juga dihadapkan pada tanggung jawab domestik yang besar—sebagai istri, ibu, atau anak yang masih diharapkan hadir secara penuh di rumah.
 
Beban ganda ini menciptakan ketegangan dalam mengatur waktu, tenaga, dan ekspektasi sosial. Banyak yang harus menavigasi antara tuntutan kantor dan komitmen keluarga, sering kali tanpa dukungan struktural yang memadai seperti cuti yang fleksibel atau fasilitas kerja ramah ibu.
Namun, Islam sangat menghargai peran rumah tangga sebagai tempat ketenangan dan kasih sayang, bukan sebagai alasan untuk membatasi peran publik perempuan.

“Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu… agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antara kamu kasih dan sayang.”

(QS. Ar-Rum: 21)

Tekanan Budaya dan Penafsiran yang Terlalu Kaku

Tantangan lain yang dialami adalah interpretasi agama yang sempit, yang menganggap bahwa tempat perempuan adalah di rumah saja. Pandangan semacam ini masih membayangi sebagian masyarakat dan bahkan bisa memengaruhi kebijakan internal perusahaan atau lembaga.
Padahal, Islam tidak menghalangi perempuan untuk menuntut ilmu dan bekerja, selama dalam kerangka etika dan tanggung jawab.

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan yang diberi ilmu beberapa derajat.”

(QS. Al-Mujadilah: 11)

Pemahaman agama yang progresif dan kontekstual akan membuka ruang lebih besar bagi perempuan Muslim untuk berkembang di dunia kerja tanpa kehilangan identitas keagamaannya.

Penutup: Merajut Identitas dan Ambisi

Perempuan Muslim tidak sedang meminta hak istimewa. Mereka hanya meminta ruang yang setara untuk menjalani dua hal sekaligus: menjadi diri sendiri dan menjadi kontributor yang berarti.
Hijab dan karier bukanlah dua hal yang bertentangan. Di tengah stereotip dan tantangan, mereka terus membuktikan bahwa keduanya bisa berjalan seiring.
 
Kini tugas kita bersama: menciptakan ruang kerja yang adil, inklusif, dan menghargai pilihan serta keyakinan setiap individu.
 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tsirwah Partnership - muslimah creator