Fiqih & Akidah

3 Kondisi Diperbolehkan untuk Berbohong, Nomor 3 Sering Dilakukan

TSIRWAH INDONESIA – Berbohong termasuk perilaku yang sering terjadi, meskipun tindakan ini tidak terpuji dan haram dalam Islam. Namun, ada beberapa kondisi tertentu yang membolehkan seseorang berbohong.

Berbohong biasanya merujuk pada penipuan dalam komunikasi lisan atau tertulis. Melansir dari identimes.com, kebiasaan berbohong bisa membawa malapetaka dalam kehidupan.

Hadis riwayat Abu Wail radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا وَعَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا

Artinya: “Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukan, dan keburukan akan menggiring kepada neraka. Dan sungguh, jika seseorang berbohong dan terbiasa dalam kebohongan, Allah akan mencatatnya sebagai seorang pembohong. Sebaliknya, hendaklah kalian jujur, sebab kejujuran membawa kebaikan, dan kebaikan mengantarkan ke surga. Jika seseorang selalu berkata jujur, Allah akan mencatatnya sebagai orang yang jujur,” (HR. Abu Daud).

Pada dasarnya, berbohong adalah perbuatan tercela. Namun, ada beberapa kondisi yang membolehkan seseorang untuk berbohong, antara lain:

1. Berbohong Saat Peperangan

Dalam situasi perang, Islam membolehkan strategi tipu daya untuk mengelabui musuh, melindungi diri sendiri dan pasukan, serta mencapai kemenangan.

BACA JUGA: Menjadi Pribadi yang Good Looking Menurut Pandangan Islam

2. Diizinkan Berbohong Demi Mendamaikan

Saat menghadapi konflik antarindividu atau kelompok, kebohongan kecil dapat membantu meredakan ketegangan dan membuka jalan menuju perdamaian.

3. Diperbolehkan Berbohong untuk Menyenangkan Pasangan

Suami atau istri boleh mengatakan sesuatu yang menyenangkan pasangannya guna menjaga keharmonisan rumah tangga.

Contohnya, ketika seorang istri memasak makanan yang kurang enak, suami tetap memberikan pujian agar istrinya tidak berkecil hati.

Hadis riwayat Ummu Kultsum radhiyallahu ‘anha menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَلَمْ أَسْمَعْ يُرَخَّصُ فِى شَىْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ كَذِبٌ إِلاَّ فِى ثَلاَثٍ الْحَرْبُ وَالإِصْلاَحُ بَيْنَ النَّاسِ وَحَدِيثُ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ وَحَدِيثُ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا.

Artinya: “Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta, kecuali pada tiga perkara: perang, mendamaikan yang berselisih, dan ucapan suami kepada istri atau istri kepada suami untuk menjaga rumah tangga,” (HR. Bukhari).

Kesimpulan

Islam sangat menganjurkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dalam kondisi tertentu, kebohongan diperbolehkan sebagai upaya mencapai tujuan yang lebih besar, seperti menjaga perdamaian dan keharmonisan.

Wallahu A’lam
Oleh Jusmin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tsirwah Partnership - muslimah creator